header

Populasi Badak Indonesia Hampir Punah, Ini 3 Hal yang Bisa dilakukan?

3 komentar

Hi SobatMQ!
Pernahkah kamu menonton film Finding Nemo? Tahu nggak kalau karakter Nemo dari tokoh kartun Disney itu diambil dari nama ikan badut Anemonefish atau Clownfish yang hidup di Great Barrier Reef, Queensland, Australia?

Great Barrier Reef

Great Barrier Reef adalah taman terumbu karang terbesar di dunia. Panjangnya yang mencapai 2.300 km membuat para astronot dapat melihat Great Barrier Reef dari luar angkasa.

Dan tentu saja, dengan terumbu karang sepanjang ribuan kilometer ini diikuti juga dengan keindahan pemandangan bawah lautnya. Memiliki luas sebesar 348.000 km2 atau sama dengan 70 juta kali luas lapangan sepakbola, Great Barrier Reef merupakan pusat keanekaragaman hayati.

Disana tumbuh hampir 3000 terumbu individu. Great Barrier Reef juga sekaligus rumah bagi 1.500 jenis ikan, 400 jenis karang, 4000 mollusca, 240 burung, anemon, cacing laut dan beragam jenis hewan laut lain yang menjadi teman terumbu karang.


Warna warni jenis terumbu karang, beragam jenis ikan, serta biota laut lainnya bermukim didalamnya. Keindahan bawah laut terumbu karang Great Barrier Reef terkenal seantero dunia, hingga banyak wisatawan berkunjung kesana. Apalagi jenis mamalia laut seperti paus bungkuk, dugong, hingga lumba-lumba hidung botol juga hidup disana.

Data dari greatbarrierreef.com.au jumlah wisatawan yang datang mengunjungi taman terumbu karang di Queensland ini berjumlah lebih dari 1 juta pengunjung per tahun, dengan valuasi pendapatan lebih dari 6 miliar dolar per tahun.

Namun sayangnya kabar buruk menerpa Great Barrier Reef. Wilayah Great Barrier Reef sering mengalami gelombang panas laut akibat perubahan iklim. Perubahan iklim membuat suhu air laut menghangat, akibatnya terumbu karang mengeluarkan alga sebagai pemberi nutrisinya. Ketika alga pergi, terumbu karang memutih. Peristiwa ini disebut sebagai coral bleaching alias pemutihan masal.

Great Barrier Reef

Sejak tahun 1998, taman laut tempat mukimnya lebih dari 10% spesies ikan di dunia ini mengalami coral bleaching. Akibat terjadinya coral bleaching, hewan-hewan laut pun musnah karena tidak memiliki tempat tinggal dan makanan. Sebagian besar spesies laut kelaparan, dan hanya sedikit yang masih bertahan.

Peristiwa coral bleaching terjadi pertama kali pada tahun 1998. Kemudian berlanjut di tahun 2002, 2016, 2017, 2020, dan terakhir 2022. Hingga saat ini para ilmuwan menduga (meski belum dapat dipastikan) peristiwa coral bleaching ketujuh di Great Barrier Reef masih terus berlangsung.


Jika sudah begini akankah kita hanya diam melihat ekosistem alami rusak? Mungkinkah anak cucu kita nanti melihat keindahan bawah laut hanya melalui video dokumenter saja, tanpa bisa melihatnya secara langsung?

Apa yang terjadi di Great Barrier Reef patut menjadi perhatian kita bersama. Mengapa? Karena apa yang menimpa terumbu karang terluas di dunia ini ada hubungannya dengan jumlah populasi badak di Indonesia yang mendekati kepunahan. Populasi badak di Indonesia yang kurang dari 100 individu turut menjadi penyebab terjadinya coral bleaching di Australia.

Apa hubungannya kritisnya jumlah badak di Indonesia dengan kejadian coral bleaching di Queensland? Mengapa populasi Badak Jawa dan Badak Sumatera yang menurun drastis dapat menjadi penyebab rusaknya ekosistem laut di Great Barrier Reef? Kamu perlu menyimak tulisan MQ sampai akhir ya.

Perubahan Iklim dan Ketersediaan Ekosistem Alami


Apakah coral bleaching yang terjadi Great Barrier Reef disebabkan perubahan iklim? Yes! Tentu saja, coral bleaching di Queensland terjadi karena adanya pemanasan global. 

Salah satu dampak akibat pemanasan global adalah jumlah zat gas rumah kaca melimpah. Ini adalah efek domino dari kebiasaan manusia, dampak pada lingkungan, pembakaran hutan yang merusak habitat fauna, hingga hampir punahnya badak di Indonesia.

Berdasarkan Population and Habitat Viability Analysis (PHVA) tahun 2016 secara keseluruhan jumlah Badak Sumatera berjumlah kurang dari 100 individu dan hanya tinggal di Indonesia. Sedangkan jumlah populasi Badak Jawa berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2022, jumlah populasi Badak jawa berjumlah 75 individu saja.


Badak

Dengan jumlah populasi yang sangat minim ini, menurut data dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) status konservasi Badak Jawa dan Badak Sumatera adalah critically endangered alias hampir menuju kepunahan.

Lantas bagaimana hubungannya badak di Indonesia yang hampir punah dengan penyebab coral bleaching? Baik, saya yakin kamu sudah tidak sabar lagi mengetahui hal ini.

Dampak Menurunnya Populasi Badak Bagi Keanekaragaman Hayati dan Bumi


1. Ekosistem tak seimbang


Melihat fakta ini wajar saja jika kemudian jumlah badak saat ini hanya kurang dari 100 individu saja. Sebenarnya apa peran badak bagi keanekaragaman hayati?

Sob, kita perlu mengetahui mengetahui fakta bahwa jika satu komponen dalam rantai makanan dalam suatu ekosistem terganggu, akan mengakibatkan ketidakseimbangan dalam sebuah ekosistem. Jika ekosistem tidak seimbang akan terjadi sebuah masalah di alam.

Bayangkan jika badak tidak ada, tidak ada yang memakan rumput dan ranting pohon, akibatnya rumput dan ranting pohon meninggi, hewan lain sulit menjadikan hutan sebagai rumah. Sedangkan bagi hewan besar seperti harimau, singa, maupun cheetah, mereka akan kehilangan sumber makanan, sehingga hewan besar ini akan mati (juga). Ekosistem mulai terganggu dan akhirnya tidak seimbang.

2. Keanekaragaman hayati berkurang


Badak adalah simbol keanekaragaman hayati serta simbol ketahanan pangan. Badak berperan dalam hal penyebaran bibit tanaman baru. Badak memakan dedaunan serta buah-buahnya. Bibit-bibit tanaman baru tumbuh dari biji yang jatuh dari pohon maupun yang ada di kotoran badak. Bekas pijakan dan kotoran badak juga sangat baik untuk penyebaran benih baru.

Dari sini, badak sangat berperan dalam penyebaran benih untuk keberlangsungan keanekaragaman hayati. Jika badak hilang dari ekosistem, tentu saja keanekaragaman hayati akan berkurang, dan komponen penyebar benih menjadi berkurang.

3. Bumi semakin memanas


Kamu penasaran nggak mengapa badak bisa berperan penting dalam kehidupan manusia terutama dalam hal perubahan iklim? Badak pemakan ranting dedaunan, semak, serta pucuk daun. Ranting yang dimakan memicu pertumbuhan ranting baru. Daun baru lebih banyak menyerap karbon dioksida dibanding daun tua. Disinilah peran badak dalam mengurangi gas rumah kaca.

Penyebab Populasi Badak Berkurang


Badak merupakan salah satu simbol keanekaragaman hayati tingkat jenis yang dimiliki oleh dunia. Di dunia ini terdapat 5 jenis badak yaitu Badak Hitam dan Putih Afrika, Badak India, Badak Sumatera, dan Badak Jawa.

Badak Sumatera merupakan badak terkecil di dunia serta bercula 2, warna kulitnya keabuan atau merah. Badak Sumatera merupakan satu-satunya badak yang ditumbuhi rambut.

Sedangkan Badak Jawa merupakan mamalia terbesar kedua setelah Gajah Afrika, beratnya bisa mencapai 1.600-2.280 kg. Badak Jawa bercula satu serta memiliki ciri fisik bibir atas lebih menonjol dan memiliki kulit seperti baju zirah.

Mengapa badak bisa berada diambang kepunahan? Jawabannya tentu saja karena ulah manusia. Karena ulah manusia yang menyebabkan badak terdesak dari ekosistemnya dan menghadapi kepunahan. Berikut ini beberapa tindakan manusia yang membuat populasi badak menurun drastis.

1. Pembukaan hutan untuk pertanian dan perkebunan


Tindakan manusia seperti pembukaan hutan untuk pertanian dan perkebunan menjadikan habitat asli badak rusak, sehingga badak merasa terdesak, karena tidak memiliki tempat tinggal dan cukup makan. Badak yang tidak mampu bertahan akan mati.

2. Perburuan liar


Belum cukup dengan pengrusakan habitat aslinya, kehidupan badak yang mulai terancam juga makin mengenaskan dengan adanya perburuan liar terhadap cula badak. Masyarakat memasang jerat untuk menangkap badak. Badak yang telah masuk perangkap jerat kemudian dibunuh untuk diambil culanya.

3. Rendahnya kapasitas reproduksi badak


Rendahnya tingkat reproduksi badak di habitat aslinya tentu saja disebabkan karena tidak seimbangnya jumlah badak yang ada. Menyempitnya habitat badak serta tingginya tingkat peruburuan yang mengancam jiwa membuat badak enggan melakukan perkawinan.

4. Minimnya ketersediaan pangan


Badak adalah pemakan pucuk daun. Cara badak makan adalah dengan cara merobohkan pohon-pohon yang kecil kemudian memakan daunnya. Namun sayangnya saat ini adanya tumbuhan invasif*** merupakan penyebab utama terjadinya badak kesulitan mendapatkan pakan yang sesuai. Adanya degradasi habitat alami badak turut menyebabkan badak menjadi kelaparan dan akhirnya mati.

Upaya Untuk Menyelamatkan Badak


Apa yang bisa kita lakukan dalam membantu upaya melestarikan populasi Badak? Langkah berikut ini dapat membantu kesuksesan program kelestarian populasi badak di Indonesia.

1. Edukasi diri sendiri


Mulai sekarang kita memiliki kewajiban untuk mengedukasi diri sendiri perihal efek gas rumah kaca serta dampaknya bagi kelestarian aneka ragam hayati. Segala apa yang kita lakukan, apakah berdampak buruk bagi lingkungan perlu dipikir ulang.

Terutama masalah sampah, edukasi diri dampak sampah organik**dan sampah non organik yang membawa dampak buruk bagi perubahan iklim. Kita bisa mulai memilah, mengolah, serta hidup dengan mengurangi produksi sampah pribadi

Sampah organik dan non organik penyumbang gas metana yang sangat tinggi di alam. Untuk itu, pikirkan untuk melakukan tindakan mengurangi dan mengolah sampah dengan bijak.

2. Menanam pohon sebagai pakan badak


Dalam hal menambah pakan badak, hal ini tidak bisa kita lakukan sendiri. Karena melakukan reboisasi di daerah habitat asli badak merupakan hal yang tidak mudah, karena habitat asli badak merupakan tempat yang sudah disterilisasi.

Namun yang bisa kita lakukan saat ini adalah tidak menebang atau mencabut pepohonan sembarangan ketika berada di dalam hutan. Badak memiliki ukuran pohon tertentu yang bisa dimakannya. Jangan sampai apa yang kita lakukan dapat menyebabkan badak kekurangan bahan pangan.

3. Membantu program pemerintah dan instansi terkait dalam upaya melestarikan Badak


Sterilisasi ekosistem tempat tinggal badak. Saat ini badak Jawa dan Badak Sumatera sudah menipis yang hidup di habitat aslinya, karena merasa tidak aman. Untuk itu yang dapat kita lakukan adalah membantu program pemerintah dan instansi terkait dalam upaya melestarikan populasi badak. Jika badak merasa aman, maka individu badak tidak akan merasa was-was untuk berkembang biak.

Ayo Bergerak, Selamatkan Badak!


Apa yang terjadi Great Barrier Reef bisa saja terjadi di Indonesia seperti Perairan Raja Ampat atau Taman bawah Laut Bunaken di Sulawesi. Untuk itu masalah Great Barrier Reef bukan hanya permasalahan bagi Australia semata, tetapi juga menjadi perhatian kita bersama.

Melalui tulisan ini saya mengajak kamu  untuk menjaga keanekaragaman hayati sebagai cerita perjalanan hidup yang lebih baik. Mari kita sukseskan program pemerintah dalam menjaga wilayah konservasi badak agar fauna ini bisa hidup normal. 

Jika habitat badak aman, maka badak dapat hidup tenang, dan diharapkan dapat berkembang biak dengan baik. Nantinya dapat menambah jumlah populasi badak. Yuk bantu pemerintah untuk selamatkan Badak Indonesia!

Salam,
MQ

Referensi:
https://greatbarrierreef.com.au

Tulisan MQ
Hi I'm Yunniew, nice to know that you sure interest visit to my blog. Here's my journey. If any inquiries or campaign please drop an email to Yunniew@gmail.com

Related Posts

There is no other posts in this category.

3 komentar

  1. Keberadaan badak hampir tak terlihat. Sehingga kesadaran mengudedukasi diri tentang badak juga minim.

    BalasHapus
  2. Saya belum pernah mrlihat badak di habitat aslinya kecuali di Taman Safari...hewan langka memang perlu dilestarikan ya mba ..sayang banget kalau sampai punah

    BalasHapus
  3. selamatkan bumi dan seluruhnya isinya dengan menjaga sekitar kita dengan baik dan bijak :D semangat

    BalasHapus

Posting Komentar